Kamis, 24 Maret 2011

SEJARAH BANTEN

ASAL MUASAL
peta-banten.jpg
Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini, terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai Selat Sunda, yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran, yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Berdasarkan catatan, Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama, Pelabuhan Kalapa, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, dan Pelabuhan Banten.
Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa, dapat diketahui, lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai, melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama “Banten Girang” atau Banten di atas sungai, nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Kemungkinan besar, kurangnya dokumentasi mengenai Banten, dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara, baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16.
peta-banten-2.jpg
Peta Lokasi Banten Girang
Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco – Indonesia, berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. Walaupun dengan keterbatasan penelitian, namun banyak bukti baru yang ditemukan. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 – 12 Masehi. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain, keramik, pengrajin besi, tembaga, perhiasan emas dan manik manik kaca. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran, dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China, Semenanjung Indochina, dan beberapa kawasan di India.
banten-girang1.jpg
Lokasi Banten Girang
banten-girang2.jpg
Banten Girang : Pertapaan yang diukir di dalam bukit batu
Secara nyata, tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut, tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten, tidak lagi dapat dipertahankan.
Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16, kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk.
Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini, dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri, namun kekuasaannya mulai menyusut. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. Masyarakat Sunda, memandang serius ekspansi Islam, melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan “Hindu”.
Menghadapi ancaman ini, Otoritas Banten, baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan, memohon kepada bangsa Portugis di Malaka, yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. Di mata otoritas Banten, bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda; bangsa Portugis sangat anti Islam, dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. Banten, di sisi lain, dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi.
Tahun 1522 Masehi, Portugis di Malaka, yang sadar akan pentingnya urusan ini, mengirim utusan ke Banten, yang dipimpin oleh Henrique Leme. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak, sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan, Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada, dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama, agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak, dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu, tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Lima tahun yang panjang berlalu, sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten, di bawah pimpinan Francisco de Sá, yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng.
Sementara itu, situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, penduduk asli Pasai, bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak, pada saat itu telah menetap di Banten Girang, dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti, akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. Dan adalah puteranya, Hasanudin, yang memimpin operasi militer di Banten. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya, Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda, yaitu Kalapa dan Banten, penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan.
Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah, Kaum Muslim, sekarang merupakan kelas sosial baru, yang memegang kekuasaan politik di Banten, dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. Putera Sunan Gunung Jati, Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak, yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Dengan itu, sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut. hiks

Rabu, 23 Maret 2011

Senin, 21 Maret 2011

SEJARAH BANTEN SELATAN

Entri BlogBAYAH, Kabupaten Lebak - Banten SelatanMay 1, '07 8:06 AM
untuk
Sedikit cerita mengenai satu kota kecamatan kecil yang memiliki pantai yang indah di daerah selatan Jawa Barat.  Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari Jakarta masuk tol Tanggerang hingga Serang Timur. Dari Serang Timur menuju ke arah Saketi, Pandeglang. Dari Saketi menyusuri jalur berkelok-kelok di Banjasari hingga Malingping.  Kemudian melewati pantai Bagedur, yang bunyi ombak bergedur-gedur. Kemudian melewati Pantai Cihara di Panggarangan, dimana ada pasar dan jembatan panjang.  Pantai yang indah, dapat dilihat dari puncak ketinggian jalan. Setelah Cihara kita akan memasuki kota Bayah. 
Bayah adalah kota yg kecil mungkin lebih cocok disebut desa. Tidak banyak yg saya ketahui asal usul kota ini, begitu juga dengan penduduk disana yg kebanyakan adalah turunan pendatang.  Dari cerita yang saya dapat, mayoritas penduduk disana adalah turunan dari Jawa, yg dahulunya ditugaskan kerja rodi (paksa) di jaman belanda dan jepang.  Namun ada juga pendatang dari daerah Cirebon yang masuk saat penyebaran agama IslamKonon saat masuknya agama islam di wilayah banten.  Pihak kerajaan Banten Tua, tampa pertempuran, langsung menyerahkan istana dan mereka beserta pengikutnya masuk kedaerah bagian dalam, yang kemudian hari lebih dikenal sebagai suku Badui.    
Namanya BAYAH mungkin diambil dari bahasa arab 'Pledge of loyalty" = Sumpah atau janji Setia.  Kalau disundanya arti Bayah itu "jeroan" hati, usus dan limpa. Jadi kagak nyambung, tapi karena ada nama Cikotok (Air Ayam), mungkin bisa nyambung juga....Jeroannya Ayam.  Itulah kata bahasa KIRATAnya, dikira-kira tapi nyata.
Pada zaman Belanda, aktivitas di Bayah sudah cukup ramai.  Bayah merupakan jalur ekonomi darat yang penting khususnya membawa hasil tambang emas ke pelabuhan Banten untuk dikirim ke Eropa Sebelum Singapore ada, Banten telah menjadi pusat perdagang Asia yg cukup terkenal hingga memiliki duta-duta di Eropa dan Afrika.  Alfred Russel Wallace, explorer dan ilmuwan yg ditugaskan ratu Victoria  Spanyol,  dalam expedisinya ke Asia tenggara sering menjelajah melalui pelabuhan Banten.  Bayangkan waktu saya SMP, tahun 1976, masih dapat dijumpai rel kereta api sepanjang pantai selatan, memampang diatas pantai dari Malimping hinggga Bayah.  Sayang sekarang yg tertinggal hanya tanggul jembatannya saja.  Sangking terkenalnya daerah ini,  Tan Malaka tokoh perjuangan yg sangat misterius dan revolusioner, pernah hidup bertahun tahun di Bayah.  Ia menyamar menjadi kuli kasar (Baca Buku..... Manikebu - Cultural Manifesto), berbaur dengan para rodin.  Bayangkan bagaimana pentingnya Bayah jaman dahulu, sampai Tan Malaka mau hidup lama dan susah disana.
Sejarah daerah tanah Pasundan, khususnya banten selatan, masih banyak yg tidak terungkapkan.  Sedikit buku sejarah yang bercerita tentang tanah ini.  Hanya dari cerita kokolot (orang tua) kisah seperti ini kita dapat.  Kebenarannya tidak bisa dibuktikan, tapi keberadaannya bisa dirasakan.
Sunda dan Jawa
Sejarah SUNDA dan JAWA punya cerita tersendiri.  Kisahnya masih menimbulkan intrik tersendiri hingga saat kini.  Gagalnya perkawinan Hayam Wuruk, Raja dari Majapahit, dan Diah Pitaloka, puteri Pasundan, banyak menyimpan dendam temurun dikalangan ninggrat sunda demikian juga suku jawanya...  Coba cari di Jawa barat kalau anda bisa temukan Jl. Gajah Mada, Jl. Majapahit dan Jl. Hayam Wuruk.
Kalau melihat sejarah dan peta nusantara jaman dahulu.  Nusantara (hindia belanda) dibagi atas dua wilayah, Sunda Besar dan Sunda Kecil. Namun sekarang hanya tinggal Selat Sunda saja.  Lucu tapi nyata, dan bukan mau belain urang sunda nih.  Hanya memang bercerita tentang sejarah banyak sekali dipengaruhi pemerannya yang berkuasa pada masa itu.  Demikian juga dengan Badak Jawa, Rhinocerus Javanicus seharusnya Rhinocerus Sundanicus atau Badak Sunda yang terdapat di Ujung Kulon dan dahulunya juga terdapat dihutan-hutan sekitar Pasundan; TNG Halimun.
Dan kisah ini terus berkepanjangan dalam kisah Nyi Roro Kidul, putri raja Padjadajaran yg sedih karena difitnah dan diguna-guna selir-selir raja, kemudia sang putri lari dan terjun kelaut agar mati, namun takdir merubahnya menjadi mahluk halus yang memerintah kerajaan pantai salatan. Hingga perkawinan dan perseteruannya dengan raja-raja Mataram dan turunannya (kesultanan Djogja & Surakarta) untuk balas dendam ke Padjadjaran.  Hingga saat ini, upacara kebersamaan antara Ratu Selatan dan Kesultanan Jogja masih tetap dilakukan sebagai upacara yang sangat sakral
Hancurnya kerajaan Padjadjaran pada jaman masuknya islam di pulau Jawa punya kisah tersendiri.  Kisah ini tidak lepas dari tragedi rumah tangga. Dimana Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatulah) yang menajdi sultan Cirebon, dan Hasanudin putra dari sunan Gunung Jati yg menjadi sultan banten, berkolaborasi dengan Mataram menyerang Padjadjaran untuk mengislamkan Padjadjaran. Sunan Gunung Jati sendiri adalah Cucu dari Prabu Siliwangi (babad Tanah Cirebon).  Konon Ratu Pantai Selatan turut membantu Mataram dalam pertempuran ini.  Kolaborasinya dengan Mataram merupakan pewujudan niat balas dendam kepada Prabu Siliwangi yang tidak bertindak arif padanya.
Tidak dicatat dalam sejarah bagaimana Kerajaan Padjadjaran hancur. Hanya orang-orang tua pintar di tanah sunda bercerita, bahwa Prabu Siliwangi dkk. menghilang beserta istananya, karena tidak mau masuk islam dan tidak mau bertempur dengan turunannya.  Diperkirakan istananya itu ada di daerah Bogor, tepatnya di kebun raya Bogor.  Namun ada juga yg mengatakan di Gunung Salak, dan juga di Pulau Panaitan. 
Di tahun bahela, di perbukitan batu dari Bayah menuju Cikotok, penduduk masih suka melihat penampakan seekor Harimau yg dipercaya sebagai wujud penjelmaan dari sang Prabu Siliwangi.  Menurut penduduk sana, jika kita bertemu dengan harimau tersebut itu merupakan pertanda yang baik...
maka dari itu kta harus menjaga dan melestarikan budaya dan kekayaan yang telah di wariskan leluhur/ nenek moyang kita kepada kita..
kita sebagi penerus bangsa harus menjaganya...
nah jagalah selalu dan jangan sampai orang lain meruaknya hikss > , <
SEJARAH DUNIA © 2008 Template by:
SkinCorner